My another world, My writing world….

Noona, Please don’t go.


Title         : Noona, please don’t go.

Author    : @puliphanie

Cast         : Choi Sulli,  Lee Taemin

Length    : Oneshot (1. 881 words)

Genre     : Friendship, angst

Rating     : PG-13

Disclaimer   : Ini ff challenge 3 dari #kelas ff  blog asian ff story yang aku ikuti . Tema cerita ini aku adopsi dari salah satu dongeng karya HC Andersen, The Little Match Girl tapi ceritanya berbeda dari cerita aslinya. 100 % dari imajinasiku. J.

“Nenek, aku berangkat” Sebuah suara riang terdengar dari sebuah rumah kecil. Pintu rumah itu dibuka oleh tangan kecil milik seorang gadis berusia 12 tahun. Seperti biasa, gadis kecil itu menunjukkan wajah ceria saat meninggalkan rumah dengan seorang wanita tua didalamnya. Dibahunya bergelayut tas kecil yang warnanya sudah kusam. Tas itu berisi buku-buku pelajaran dan bekal makan siang lengkap dengan 2 botol air berukuran sedang. Dia selalu meminta neneknya mengisikan 2 botol air karena dia akan mudah haus jika hari mulai beranjak siang.

Anyeong haseyo, ahjumma” Gadis kecil itu menyapa wanita penjual bubur yang sudah sangat dikenalnya sambil membungkukkan badan.

Ne, anyeong haseyo sulli-ya. Ayo sarapan bubur dulu”

Ahnio, kamsahamnida. Tadi sudah sarapan” jawabnya kembali kemudian melanjutkan langkahnya.

“Ini korannya, Sulli-ya. Semuanya ada 35 eksemplar” gadis kecil bernama Sulli itu menerima tumpukan koran dengan bersemangat.

Ne, kamsahamnida ahjussi

“Ya, sebenarnya aku tidak tega melihatmu berjualan koran seperti ini, tapi karena kau memaksa aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jangan lupakan belajarmu, karena itu sangat penting untuk masa depanmu” ucap laki-laki paruh baya itu yang disambut senyum kecil Sulli.

“Siap, ahjussi. Aku akan belajar dengan rajin” Sulli menempelkan ujung jari-jari di pelipisnya berlagak menghormat dan mengundang tawa laki-laki itu. Sulli ikut tertawa.

“Sudah, ayo cepat berangkat sana”

Ne“.

****

Sulli memasuki sebuah restoran mie china yang cukup ramai siang itu. Dia langsung menemui pemiliknya.

Anyeong haseyo, ahjumma

“Ah, Sulli-ya. Kau sudah pulang. Langsung ke dapur saja, disana ada Min eonni“. Sulli menuruti perintah wanita itu dan segera kedapur menggantikan pekerjaan wanita yang bernama Min mencuci piring karena dia harus membeli sayuran yang mulai menipis persediaannya. Hampir sebulan sudah Sulli membantu pekerjaan diresoran ini dan mendapat gaji meskipun tak seberapa. Butuh waktu dan sedikit pemaksaan dari Sulli untuk bisa diterima bekerja karena Mi Sun, pemilik restoran ini tidak tega mempekerjakan gadis kecil sepertinya. Selain itu dia kenal dekat nenek Sulli. Bagaimana kalau neneknya sampai tahu? Sulli meyakinkan Mi Sun bahwa neneknya tidak akan pernah tau. Akhirnya Misun bersedia dengan syarat sulli hanya boleh membantu pekerjaan ringan dan hanya bekerja selama 2 jam. Sulli menyetujuinya dan berkali-kali mengucapkan terimakasih.

“Selesai” Sulli meletakkan piring terakhir ke rak. Dia menggelembungkan pipinya, melepaskan nafas lelahnya.

“Sulli-ya, ini untuk hari ini. Pergunakan dengan baik ya” Sulli menerima lembaran uang itu dengan wajah sumringah.

Kamsahamnida, ahjumma. Aku akan menyimpannya”

“Bagus. Kau tau, ibumu pasti sangat bangga padamu disana” Sulli kembali mengucapkan terimakasih dan meminta ijin untuk pergi. Dia keluar dari restoran dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Dalam otaknya sudah terbayang-bayang pada celengan ayamnya yang sebentar lagi akan bertambah berat.

Sulli berjalan menuju taman kota untuk menghabiskan bekalnya sebelum pulang kerumah. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang mengikutinya. Seorang anak laki-laki  dengan kotak makan ditangannya. Matanya terus mengawasi langkah Sulli, wajahnya menyiratkan keraguan. Anak laki-laki itu duduk agak jauh dari Sulli dikursi taman. Dia terus menundukkan kepala sambil sesekali melirik kearah Sulli.

Sulli membuka bekalnya dan mulai makan dengan lahap. Sementara anak laki-laki itu terus memperhatikannya. Tanpa sengaja mata sulli menangkap tatapan anak laki-laki itu. Sulli tersenyum padanya, dia juga tersenyum dan ikut memakan bekal yang dibawanya. Kini giliran Sulli yang melirik ke anak laki-laki itu. Dia menghentikan kunyahannya  sejenak,

“Kau, anak pemilik restoran ayam itu kan?” Anak laki-laki itu juga menghentikan makannya dan menoleh pada Sulli kemudian mengangguk riang.

“Benar! Aku sering melihatmu disana. Kata MiSun ahjumma, kau anak pemilik restoran itu” Dia kembali mengangguk. Kini dengan senyuman lebar kemudian menggeser pantatnya lebih mendekat pada Sulli.

“Namaku Sulli. Choi sulli” Anak laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada Sulli.

“Lee… Taemin..” Sulli mengeja nama yang tertera dikartu yang diberikan anak laki-laki itu.

“Namamu Lee taemin?” dia mengangguk.

“Kau lebih muda 2 tahun dariku, taemin-ah” Dia terlihat terkejut kemudian tersenyum. Bibirnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu dan membentuk kata “Noona“.

Taemin, anak pemilik restoran ayam yang berada diseberang restoran mie china milik MiSun ahjumma. Dia bisu, namun pendengarannya masih berfungsi meskipun tak setajam anak normal dan juga memakai alat bantu dengar. Dia tidak bersekolah disekolah umum, melainkan homeschooling. Itulah sebabnya dia tidak punya teman dan merasa malu untuk bermain dengan anak-anak seusianya karena keterbatasannya. Taemin memilih untuk tetap dirumah, bermain sendiri. Namun akhir-akhir ini dia lebih senang ikut orangtuanya ke restoran ayam mereka sejak pertamakali melihat Sulli direstoran mie china itu. Dia seperti mendapat semangat baru untuk memiliki teman. Setiap hari dia menunggu Sulli didepan restoran orangtuanya, sampai-sampai dia hapal kapan waktu Sulli akan datang. Saat sudah melihat Sulli, dia akan tersenyum kemudian masuk kembali tanpa menyapanya karena dia masih merasa malu untuk melakukannya. Ayah Taemin mengetahui apa yang dilakukannya setiap hari, berdiri didepan restoran, beberapa lama kemudian akan masuk kembali dengan wajah yang lebih cerah. Ayahnya menyuruh Taemin untuk mengenalkan dirinya pada Sulli karena dia tahu Taemin sangat ingin memiliki teman. Akhirnya, hari ini Taemin mengikuti Sulli dan berhasil mengenalkan dirinya pada Sulli. Perkenalan yang menyenangkan. Taemin benar-benar sudah memiliki teman sekarang. Dia menyukai Sulli yang periang dan ternyata mau berteman dengannya. Sejak hari itu mereka sering bermain bersama stelah Sulli menyelesaikan pekerjaannya. Mereka makan bekal masing-masing, kadang juga saling bertukar menu makanan. Setelah makan, mereka bermain ayunan ditaman. Saat matahari sudah menjingga, Sulli mengajak Taemin pulang dan mengantar Taemin. Dia sudah menganggap Taemin sebagai teman bermain sekaligus adiknya. Dia juga mempelajari bahasa isyarat dengan tangan dari Taemin dan kini mereka semakin mudah berkomunikasi.

Sudah seminggu ini Sulli tidak ke restoran mie china lagi. Dia telah meminta ijin untuk berhenti membantu pekerjaan disana karena neneknya sudah mengetahui hal tersebut dari salah seorang tetangga mereka yang melihat Sulli mengantarkan pesanan mie saat dia berkunjung kerestoran itu. Neneknya sedikit marah karena dia bekerja diam-diam hanya untuk memenuhi kebutuhan perekonomian mereka. Hasil berjualan kue beras neneknya tidak mencukupi biaya sekolahnya, itulah alasan Sulli bekerja disana. Akhirnya neneknya menyuruh Sulli untuk berhenti melakukan hal tersebut, berhenti mencari uang karena dia akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan uang. Sulli hanya menurut perkataan neneknya, dia tidak berani untuk membantah orang yang paling dicintainya itu. Sementara Taemin merasa kehilangan sosok teman yang selama ini selalu hadir menemaninya dan bermain dengannya. Setiap hari dia menungu Sulli didepan restorannya,berharap Sulli akan datang dan mereka bisa bermain bersama lagi. Wajahnya kembali l

“Nenek, aku pulang” Sulli membuka knop pintu dan bergegas masuk kedalam rumah. Hari ini salju turun dan hawa diluar benar-benar dingin. Sulli ingin dibuatkan teh hangat pada neneknya. Dia menemukan neneknya sedang duduk dimeja dapur. Wajahnya tenggelam dikedua lengannya. Sepertinya dia tertidur. Didekatnya terdapat beberapa adonan kue beras yang belum diolah.

“Nenek, tidurlah dikamar, biar aku yan meneruskan membuat kuenya” Sulli mengguncang bahu neneknya pelan.

“Nenek..” kembali Sulli membangunkan neneknya. Tiba-tiba tangan neneknya terkulai lemas, sulli menahan nafas melihatnya dan mengguncang tubuh neneknya lebih keras tapi neneknya tidak juga bangun.

“Nenek…” ucapnya lagi sambil terisak. Air matanya keluar dari sudut matanya, tangannya terus mencoba membangunkan neneknya namun tubuh itu tidak akan pernah bangun lagi.

****

“Taemin-ah” seorang gadis berdiri didepan restoran dan melambai pada taemin yang membuat matanya membola karena terkejut. Dia segera berlari keluar dengan senyum sumringah.

” sulli noona” ucapnya tanpa suara. Wajahnya terlihat girang karena bisa melihat gadis itu lagi.

“taemin-ah, lama tak ketemu. Bagaimana kabarmu?” taemin menjawab pertanyaan itu denganmenggerakkan jari2x cepat, bentuk2 perubhan jari yg ditangkap sulli bermakana,

“noona, aku sangat merindukanmu. Kenapa kau tiba2 menghilang?”  sulli ikut mengungkapkan jawabnya melalui jari-jarinya,

“aku juga merindukanmu, taemin-ah” taemin mengangkat kedua tangannya meminta sulli untuk tetap disana kemudian masuk kedalam restoran. Beberapa lama kemudian ia keluar dengan 2 kotak makanan dan sebotol minuman ditangannya, dia memberikan salah satu kotak pada sulli dan mengajaknya pergi. Mereka menuju taman yang sering mereka datangi, bermain ayunan sampai puas dan memakan bekal yang dibawa taemin. Taemin terlihat sangat gembira karena keinginannya untuk bermain dengan sulli lagi dapat terkabul. Mereka berjanji akan bertemu lagi dimalam tahun baru, 2 hari lagi di taman ini. Sulli menjanjikan akan memberikan hadiah pada Taemin begitupun Taemin.

Sulli berjalan dengan tubuh menggigil,  sendal tipisnya tidak dapat melindungi kakinya dari jalanan bersalju yg dinginnya menusuk hingga ketulang. Dirapatkannya jaket lusuh yang sudah tak hangat lagi, jaket pemberian neneknya saat dia ulang tahun. Ditangannya ada beberapa bungkus kue beras yang akan ia jual. Dia harus mendapatkan uang malam ini, jika tidak dia tidak akan punya uang untuk makan besok. Namun, setengah jam dia berjalan dan menawarkan kue berasnya, tak ada satu orangpun yang tertarik untuk membelinya. Dia tak menyerah, suara seraknya yang mulai melemah terus ia tinggikan, tak perduli butiran-butiran salju yang semakin gencar memenuhi kepala dan pundaknya.

Sulli melirik jam besar dimenara kota. Jam 18.15, dia teringat janjinya pada Taemin. Pasti anak itu sudah menunggu ditaman itu, atau dia sudah pulang karena lelah menunggunya? Seharusnya jam 17.00 mereka sudah bertemu, dan bermain kembang api disana. Sulli membelok tubuhnya menuju taman kota yang berada beberapa puluh meter dari tempatnya sekarang.

Taman tempat mereka bertemu nampak sepi, dia tak melihat tanda-tanda ada Taemin disana. Mungkinkah dia sudah pulang? Hati Sulli kembali bertanya ragu namun kakinya tetap melangkah ke ayunan, tangannya masih memegang erat plastik-plastik kue berasnya. 10 menit terasa lama baginya, Sulli tetap bertahan diatas ayunan, hatinya seolah meyakininya bahwa Taemin akan datang. 20 menit, tubuh sulli semakin menggigil, hidungnya memerah. Dikeluarkannya sebuah benda dari sakunya, korek api. Awalnya dia nampak ragu untuk menghidupkan batang-batang korek api itu, namun akhirnya dia mengambil satu batang dan menggeseknya kesisi kotak korek. Cresshh.. sebuah api kecil muncul diujung batang korek, jarinya mulai menghangat. Ia seperti melihat sesuatu di api kecil itu, dia melihat Mi Sun ahjumma disana tersenyum padanya. Ditangannya ada semangkok mie China yang tampak mengepul tipis, liurnya hendak keluar karena lapar tapi api kecil itu tiba-tiba mati dan Mi sun ahjumma juga ikut menghilang. Dia menggesek sebatang lagi, creshhh..kini dia melihat Taemin berlari dan melambai padanya, Sulli tersenyum. Namun lagi-lagi api itu mati dan Taemin ikut menghilang. Sulli semakin bersemangat untuk menggesekkan batang-batang yang tersisa, mengharapkan hala-hal indah lainnya muncul. Tanpa ia sadari tubuhnya mulai menggigil hebat, kakinya mulai terasa kaku untuk bergerak sementara jari-jarinya masih sibuk dengan batang-batang korek itu. Batang korek terakhir, Sulli mengambilnya. Dipandanginya batang korek itu sejenak, sudah banyak hal-hal menyenangkan yang ia lihat dari api-api sebelumnya. Batang-batang korek api yang ujungnya sudah berwarna hitam berserakan di salju. “Apa yang akan aku lihat di api terakhir ini?” Dia memejamkan matanya, seperti berdoa kemudian menggesekkan batang korek itu. Dia melihat neneknya disana, seperti biasa dengan tatapan teduh dan retasan senyum hangat yang selalu ia rindukan. Neneknya mengulurkan kedua tangannya, menunjukkan sweater hangat yang ia pakai dan menggodanya untuk datang kepelukannya. Sulli mengangguk dan tersenyum lebar, 2  detik kemudian api kecil itupun padam bersamaan dengan terpejamnya mata Sulli. Kepalanya bersandar pada tali ayunan dengan wajah yang penuh senyum.

Taemin berlari kecil ketaman bermain, jaket tebal menutupi tubuh kecilnya dengan 2 kotak makanan ia pegang erat. Dia tampak terkejut saat melihat ada seseorang yang duduk diayunan. Dia semakin mempercepat langkahnya. “Noona” Taemin tersenyum saat melihat orang yang duduk diayunan itu, tangannya meraih pundak orang itu. Dia tidak menoleh bahkan tak bergerak, ia coba mengguncang pundaknya pelan. Taemin sedikit terkejut melihat mata orang itu terpejam dan bibirnya meng ungu. Segera ia raih tangan orang itu dan menekan-nekan pergelangan tangannya, tak ada detakan disana. Dia menempelkan telinganya kedadanya, sama. Tak ada detakan. 2 kotak makan yang ia pegang terjatuh dengan sendirinya, disudut matanya mulai mengalir cairan hangat yang semakin lama semakin deras. “Sulli noona, gajima” ucapnya melalui gerak bibirnya sambil terus mencoba membangunkan tubuh kaku didepannya.

Iklan

Ayo tinggalin jejak...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: