My another world, My writing world….

The Protectors (1/?)


 

CHAPTER I

Tittle        :     The Protectors

Cast          :     All Infinite’s member

                         Seo Na Ri (OC)

Genre      :     Friendship

Rating      :     General

Length     :     Chaptered

Summary:     6 orang penyanyi jalanan yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupan seorang gadis yatim-piatu yang rumit karena masalah harta yang ditinggalkan ayahnya. Mau tidak mau mereka harus melakukan banyak hal untuk membantunya mempertahankan kekayaanya dan melindungi gadis itu dari percobaan pembunuhan oleh mantan relasi ayahnya yang sering mengancam hidupnya.   

 

Anyeong……… saya menenteng (?) sebuah fanfic chaptered perdana saya. Ini benar-benar fanfic chaptered debutan jadi mungkin gak akan mampu menandingi ff chaptered author-author handal lainnya *sangat sadar diri*. Keke, tapi saya tetap mengharap respon dari reader-deul sekalian karena saya sangat butuh masukan akan dikemanakan fanfic ini selanjutnya *nyanyi lagunya Armada*. Ehm, soal inspirasi, saya dapet setelah beberapa kali nonton MV Paradise milik Infinite. Karena saya gak juga paham MVnya bercerita tentang apa, akhirnya saya memutuskan untuk membuat ff ini O.o. tapi, inspirasi ini terpusat pada model cewek yang kayaknya galau gitu di MV itu.

Eh, udah berapa abad saya berceramah nih? *liat penanggalan Sebelum Masehi*. Okeh, sekian dari saya, selamat membaca dan jangan lupa komennya. ^^.

 

Untuk chapter pertama, magnae Sungjong belum muncul. Katanya sih bikin kejutan gitu, dia pengen nampang nama di chapter ke 2, piss oppa.. keke.

 

 

 

 

The Protectors

Hanie Hannew©2011

All Reserved.

 

”Hyung, apa penampilanku keren?” seorang namja  sedang memperlihatkan topi yang dikenakannya pada namja didekatnya. Dia mengangguk datar dan melanjutkan mempersiapkan barang-barangnya. Namja itu mengerucutkna bibirnya mendapat respon orang itu kemudian beralih pada orang dibelakangnya

“Woo hyun-ah, bagaimana menurutmu penampilanku hari ini? aku yakin orang-orang  nanti akan semakin banyak yang datang karena melihatku”

“Ya! SungYeol-ah, bisakah kau berhenti mengoceh? Meskipun tanpa topi itu, penonton akan tetap banyak karena melihat pesonaku” namja lain mulai merisihkan Sung Yeol.

“Aish, hyung, ingat umur” Balas SungYeol cepat dengan tatapan mengejek.

“Mworago? (Apa kau bilang?)” namja itu siap menerkam SungYeol namun segera dilerai oleh namja lain didekat mereka.

“Ya! Kenapa kalian selalu berselisih tiap pagi, huh?  Yang terpenting hari ini kita tampil baik. Cepat siapkan barang-barang kalian!” Sunggyu sang leader menghentikan perselisihan tak penting itu.

Mereka berhenti berselisih dan mengikuti instruksi leader mereka, namun Dongwoo masih memasang tatapan macan pada Sungyeol yang dibalas dengan tatapan kelinci SungYeol *masang aegyo* ==’.

Sebuah perselisihan yang sering terjadi tiap pagi saat mereka sedang berkumpul menyiapkan penampilan mereka. Mereka adalah kelompok penyanyi jalanan yang sering melakukan aksi ditaman-taman kota Seoul, jumlah mereka berenam bernama INFINITE. Tujuan mereka bukanlah mencari uang seluruhnya, namun hanya sekedar hobi mereka yang senang bernyanyi dan menghibur banyak orang.  Keberadaan mereka sudah cukup dikenal oleh orang-orang yang sering berjalan-jalan disana. 6 orang namja ini sudah bersahabat sejak ditahun pertama di SMA. Kim Sunggyu, namja dengan banyak kelebihan. Dia memiliki suara emas dan kemampuan dance yang baik, ditunjuk sebagai leader karena sifat bijaksananya  dan pintar. Jang Dong woo, namja ini menyukai bela diri dan telah menyandang sabuk hitam tapi wajahnya tidak meyakinkan bahwa dia telah berada ditingkat itu. Namja yang sedikit agak tak waras dan suka seenak jidat kalau melakukan sesuatu. Nam Woohyun, dia sangat suka bernyanyi. Ayahnya adalah seorang jaksa di Departemen Investigasi Khusus di Seoul dan merupakan satu-satunya orang yang menentang kegiatannya bernyanyi dan menganggap perkumpulan yang ia ikuti hanya akan membuang waktunya dan membuat belajarnya terganggu tapi Woohyun tidak pernah menggubrisnya . Dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama infinite sepulang sekolah dan pulang kerumah saat malam hari. Hal itu membuat ibunya sering khawatir padanya.  Lee Hoya , seorang presiden sekolah dengan kemampuan dance  yang luar biasa, dia seseorang  yang menyukai tantangan dan paling suka jika menghadapi situasi menegangkan, seperti perkelahian karena dia akan ikut didalamnya *berpartisipasi meramaikan suasana -__-*. Lee SungYeol, sepertinya dia tidak pantas disebut laki-laki karena mulutnya yang elastis, sangat cerewet dan selalu ingin tahu persoalan orang lain.  Namun dia tipe orang yang pekerja keras, terutama dalam usaha mengganggu teman-temannya O.0.  Kim Myungsoo, salah satu namja yang bisa dianggap waras dalam perkumpulan ini. Dia terkesan dingin dan menjadi namja-paling-diminati dikalangan para siswi disekolahnya kerena tampang 11-12 nya dengan salah satu aktor terkenal di korea (guess who? 😀 ) serta kemampuannya memetik gitar yang tidak diragukan lagi.

****

Keenam namja itu kini sudah sampai ditaman kota. Selama libur musim panas ini, mereka akan lebih sering datang ketaman. Satu-persatu dari mereka mulai bergerak lincah dan diikuti lantunan dari suara khas mereka. Orang-orang disekitar mulai tertarik dan mendekat kearah mereka dan membuat mereka tampak semakin bersemangat.

“Dong woo hyung, lihatlah. Orang-orang  penting juga menonton penampilan kita rupanya” SungYeol berbisik pada DongWoo dan lupa kalu dia telah membuat DonWoo panas pagi ini.

Dongwoo mengikuti arah pandangan SungYeol dan melihat dua orang laki-laki dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam berada disela-sela penonton. Hoya yang mendengar pembicaraan mereka juga melihat kearah penonton, dua orang laki-laki itu nampak bersikap tak biasa baginya. Mereka sama sekali tidak menikmati penampilannya, dan justru terlihat seperti mencari seseorang, alis Hoya beratut demi  ingin mengetahui siapa yang mereka cari, matanya terus mengawasi mereka. Sementara itu, Myungsoo juga memperhatikan mereka sejak tadi, mencari tahu apa yang mereka lakukan disini. Dia menyangsikan mereka datang untuk menonton. Myungsoo memutar kepalanya, menyapu pandangan keseluruh orang-orang yang melingkari mereka. Tanpa sengaja matanya menangkap seorang laki-laki paruh baya yang juga berdiri disela-sela penonton, wajahnya tampak ketakutan dan kebingungan. Myungsoo menoleh pada  dua laki-laki itu lagi. Benar  mereka memusatkan pandangan pada laki-laki paruh baya itu dan terlihat bergerak perlahan menuju laki-laki itu,  salah seorang dari mereka mengeluarkan sesuatu dari baik jasnya, mata Myungsoo terbelalak saat mengetahui benda itu adalah sebilah pisau. Mata  myungsoo dan hoya saling bertabrakan, mereka memiliki pemikiran yang sama tentang dua orang laki-laki itu, myungsoo mengangguk padanya, memberikan isyarat dan hoya memahaminya. Hoya mulai bergerak kedepan, membuat tarian breakdance dan mengajak penonton untuk mengikutinya, gerumulan orang-orang mulai mendekat padanya dan melihat aksi menakjubkannya dan membuat laki-laki berjas hitam itu terkunci disela penonton. Dia cukup kesulitan bergerak. Dengan langkah cepat, myungsoo berlari kearah  laki-laki paruh baya itu dan menariknya keluar lingkaran penonton. Laki-laki berjas hitam yang lain menyadari hal itu dan mencoba mengejar mereka namun dengan sigap Dongwoo menahan geraknya dengan berpura-pura menabraknya dri belakang, laki-laki itu jatuh tersungkur karena dorongan yang cukup keras dari dongwoo.

“Ah, Chusunghamnida ahjussi (mohon maaf, tuan). Aku tidak sengaja” ucap Dongwoo sambil menarik tangannya membantunya berdiri. Laki-laki itu mencoba kembali bergerak dan dongwoo lagi-lagi menahannya,

“Aigoo, jasmu kotor ahjussi. Ijinkan aku membersihkannya”  Dongwoo menepuk-nepuk punggung dan pantat laki-laki itu yang mencoba menangkisnya tapi dongwoo tidak melepaskan genggaman tangannya. Mata dongwoo melirik ke jalan, dia tidak melihat myungsoo lagi kemudian tersenyum dan melepaskan jas laki-laki itu.

“Sudah bersih ahjussi. Sekali  lagi chusunghamnida”  domgwoo membungkukkan badannya, orang itu menatapmya dengan kesal karena tidak bisa mengejar targetnya.

Myungsoo membawa laki-laki  itu ketempat tersembuanyi setelah merasa dua orang laki-laki tadi tidak mengejar  mereka lagi. Nafasnya terengah. Dia kembali mengintip kesisi jalan yang sepi. Tidak ada orang,  kemudian kembali beralih ke laki-laki dibelakangnya yang sama terengahnya dengan dia. Wajahnya tampak pucat,

“Ahjussi, gwaenchana? (tuan, anda tidak apa-apa)”  Laki-laki itu mencoba menormalkan nafasnya dan menutup matanya sejenak,

“Nan gwaenchana. Kamsahamnida, jeongmal kamsahamnida. (Aku baik-baik saja, terimakasih, terimakasih sekali)” dia membungkukkan badannya pada myungsoo.

“Kalau boleh tau, siapa dua orang laki-laki tadi?” laki-laki itu tampak terdiam namun akhirnya membuka suara

“Mereka…. mencoba untuk membunuhku”

“ne!? (apa?)” suara myungsoo meninggi dengan tatapan tak percaya.

“ya, mereka mengejarku untuk membunuhku. Aku keluar dari mobil dan berlari ketaman kota berharap mereka tak bisa mengejarku. Tapi ternyata mereka dapat menemukanku dan hampir saja menangkapku ditempat tadi”

*****

“Yah! Myunsoo-ya dari mana saja kau?” Sung Yeol menyambut kedatangan Myungsoo dengan tatapan kesal karena menghilang tiba-tiba. Myungsoo tidak langsung menjawab pertanyaan Sungyeol tapi langsung merampas botol air yang dipegang dongwoo dan membuatnya mendapatkan tatapan macan dari Dongwoo. Dasar dongsaeng tidak sopan!.

“Myungsoo-ya, bagaimana tadi?” kini giliran Hoya yang melontarkan pertanyaan padanya. myungsoo mengelap bibirnya yang basah oleh air kemudian menoleh pada hoya,

“Dua orang berjas hitam itu  akan membunuh ahjussi tadi” ucapnya datar namun sukses membuat dongwoo yang sedang menegak airnya tersedak dan terbatuk.

“Jinjjayo? (benarkah?)” pekik dongwoo dengan suara beratnya. Hoya tak kalah terkejut dan membetulkan posisi duduknya untuk mendengar cerita selanjutnya. Sementara  3 orang namja yang ikut dalam pembicaraan itu  tidak tahu apa-apa dan hanya saling memandang tak mengerti.

“Ne, jika kita tak segera bertindak, mungkin mereka sudah berhasil menangkapnya”

“Yah, apa yang kalian bicarakan? Pembunuhan? Dongwoo hyung, maksudmu dua orang berjas yang kita lihat tadi?” SungYeol memasang wajah bingungnya meminta jawaban dari dongwoo. Dongwoo mengamgguk cepat.

“Myungsoo-ya, jadi kau menghilang tadi untuk menyelamatkan laki-laki itu?” sunggyu ikutan ingin tahu. Myungsu mengangguk.

“Lalu, dimana dia sekarang?”

“Sudah pulang, dia mengucapkan terimakasih pada kalian”

“terimakasih? memangnya kami melakukan apa?” SungYeol menatap wajah teman-temannya, tidak ada yang bisa menjawab.

“geunyang gomawosseo (hanya, terimakasih saja)” jawab myungso akhirnya. mereka mengangguk pelan, entah mengerti atau tidak.

****

5 hari berlalu sejak kejadian itu, mereka melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Datang ke taman kota dan menghibur para pejalan kaki disana. Pembicaraan tentang percobaan pembunuhan oleh dua orang misterius itu kini tak lagi terdengar di perbincangan mereka. Sebenarnya myungsoo tidak menceritakan satu hal kepada teman-temannya. Tentang mengapa laki-laki itu menjadi incaran pembunuhan dan berujung pada sekelumit kisah yang diceritakan oleh laki-laki itu. selain ucapan terimakasih, laki-laki itu juga menitipkan sebuah kartu nama dan alamat dimana ia tinggal serta memintanya dan teman-temannya untuk datang kesana.

“Myungsoo-ya, apa kau melihat…” Myungsoo reflek menyembunyikan kartu nama yang ia pegang dibalik saku celananya kala mendengar suara DongWoo.

“Ne? kenapa hyung?”

“Ahni, tidak jadi.  Apa yang kau pegang tadi?”

“ah, bukan apa-apa” suara myungsoo terdengar kikuk namun dongwoo tidak bertanya lagi.

“Eung,,, hyung” myungsoo menahan langkah dongwoo.

“wae?”

“Mau ikut denganku?”ucap Myungsoo sambil memperlihatkan kartu nama yang sempat ia sembunyikan tadi.

****

6 orang namja sedang berdiri mematung disebuah gerbang yang mewah dan tinggi. Mereka saling memandang tentang dimana mereka. Salah satu namja dengan kartu nama ditangannya kembali mencocokkan angka yang terpaku di sisi bangunan dengan kartu nama itu.

“Myungsoo-ya, kau yakin ini tempatnya?” seperti biasa celetukan SungYeol akan menjadi pembuka dan membuat myungsoo kembali memasang wajah tak enak dengan si mesin-pita-suara disampingnya itu. Awalnya dia hanya mengajak Dongwoo untuk datang kerumah ini tapi karena hyungnya yang cerewet ini bertanya ini-itu maka dengan terpaksa dia mengajak semuanya.

“Myungsoo-ya, kalau kau tidak yakin, lebih baik kita pulang. Jangan sampai orang yang didalam mengusir kita karena memang tak mengenal kita” Sunggyu menimpali. Myungsoo menggeleng cepat setelah begitu lama mencocokkab angka-angka itu.

“Tidak hyung aku sangat yakin”

“kalau begitu, pencet saja tombolnya, aku sudah kesemutan berdiri disini!” ucap Woo hyun ketus.

“Arassseo. (Aku tahu)” Myungsoo mendekat ke bel dekat gerbang dan memencetnya. Beberapa lama kemudian muncul wajah sesorang yang ia kenali di layar kecil dekat bel.

“Nuguseyo? (siapa?)” tanya orang itu dari dalam.

“Kami, ahjussi” jawab Myungsoo dan membuat laki-laki dilayar itu tersenyum dan segera memencet tombol besar didepannya. Pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya dan membuat namja-namja itu takjub  sejenak kemudian melangkah kehalaman. Seorang laki-laki paruh baya muncul dari dalam rumah dan menyambut mereka dengan ramah.

“Anyeong haseyo, ahjussi” myungsoo membungkukkan badan dan diikuti yang lain.

“anyeong haseyo, kalian datang juga. Mari silahkan masuk”

Laki-laki itu menuntun ke 6 namja itu menuju ruang tengah. Mereka kembali dibuat kagum oleh ornamen-ornamen rumah yang mewah dan luas. Laki-laki itu mempersilahkan mereka duduk dan menanyakan minuman yang mereka inginkan. Sebelum SungYeol bersuara, Sunggyu lebih dulu membekap mulutnya dan mewakili teman-temannya untuk memesan minunman yang sama, laki-laki itu mengangguk dan berjalan kearah dapur. Sungyeol memasang wajah kesal, mereka hanya terkekeh.

“Uwah.. jinjja kyeopta (benar-benar indah). Rumah ini seperti istana. Benar saja dua orang misterius itu ingin membunuhnya, pasti mereka mengincar rumah ini dan kekayaan ahjussi itu” Dongwoo mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dengan mata berbinar.

“Ini bukan rumahnya” mereka terkejut bersamaan demi mendengar kalimat Myunsoo.

“Bukan?”

“Ne, dia adalah kepala pelayan dirumah ini. pemilik rumah ini adalah seorang gadis yang telah kehilangan ayah dan ibunya. Ahjussi itu bekerja pada ayahnya yang beberapa hari ini meninggal karena serangan jantung”

“Maksudmu gadis itu seorang yatim-piatu?” SungYeol bersuara.

“Ne, dia adalah pewaris tunggal semua kekayaan ayahnya, tapi saat ini dia belum bisa memiliknya”

“Kenapa?” kini Woohyun yang bertanya, semua wajah tampak terlihat penasaran dengan cerita Myungsoo tentang rumah ini.

“karena dia sedang dalam keadaan depresi berat setelah kematian ayahnya, sehingga proses pengalihan kekuasaan itu tidak dapat dilaksanakan untuk saat ini” Mereka mengangguk paham.

“igo.. (ini)” laki-laki itu datang dengan membawa nampan besar berisi minuman kemudian meletakkannnya dihadapan mereka dan kembali duduk.

“Oh iya, kita masih berkenalan ya? Namaku Ahn Dong Ju” ucap laki-laki itu. Myungsoo sudah mengetahui namanya dari kartu nama yang ia terima.

“Naneun SungYeol imnida, ahjussi. Disebelah kananku adalah Woohyun, disebelah kiriku adalah Dongwoo, Hoya, Sunggyu dan orang didekatmu itu bernama Myungsoo” SungYeol menunjuk teman-temannya satu persatu dan membuat mereka kembali memasang wajah kesal karena tidak membiarkan mereka mengenalkan diri mereka sendiri. DongWoo yang duduk didekatnya menginjak kaki dongsaeng nistanya ini, SungYeol  meringis sejenak menatap panas padanya dan membuat Dongwoo terseyum menang.

Mereka berbincang lama dan membicarakan tentang kejadian ditaman itu. kemudian seorang yeoja dengan blaer panjang lewat didepan mereka tanpa menoleh, rambut panjangnya  terurai dan tampak tak rapi. Tatapannya kosong menatap kedepan dan berjalan pelan dengan kaki telanjang. Semua mata memusat pada yeoja itu,

“dia… nona Na Ri, putri tuan Seo” ucap tuan Ahn pelan, matanya memperlihatkan kesedihan saat mengatakan hal itu. 6 orang namja itu menoleh pada tuan Ahn. Sepertinya gadis itu benar-benar dalam keadaan depresi.

“Ahjussi, mau kemana dia?” Dongwoo mengikuti gerak gadis itu.

“Ke balkon, setiap pagi dia akan kesana untuk melihat taman bunga dari atas. Taman itu dirawat olehnya dan kedua orang tuanya. Mereka selalu menghabiskan pagi dengan duduk-duduk disana  sebelum tuan Seo berangkat kekantor dan nona Na Ri berangkat kesekolah”

“Ya! Myungsoo, neo odika?” Woohyun tampak terkejut melihat Myungsoo yang bangkit dari tempat duduknya  dan berlari kearah Na Ri. Tuan Ahn ikut terkejut dengan apa yang dilakukakn Myungsoo. Beberapa detik kemudian terdengar  suara teriakan keras Myungsoo memanggil tuan Ahn dari arah balkon. Mereka yang berada diruang tengah segera berlari ke balkon.

“Nona Na Ri!” pekik tuan Ahn melihat pemandanagn didepannya. Tubuh Na Ri tergantung disisi balkon dengan sebelah tangannya yang ditahan oleh tangan Myungsoo. Matanya tertutup, Myungsoo tampak bersikeras menahan berat badannya.

“Ppalli (cepat!), bantu aku menariknya!” Teriak Myungsoo dan membuat mereka segera tersadar dan berlari kearahnya. Tuan Ahn mencoba meraih bahu Nari dan menariknya bersama-sama.

“Nona… bangun, nona Na Ri!” Tuan Ahn menepuk pipi Na Ri dengan gusar. Mata gadis itu masih tertutup dan tubuhnya lemas.

“Myungsoo-ya, apa yang terjadi?” Sunggyu juga terlihat shock. Myungsoo mengelap peluh didahinya sejenak kemudian membuka suara,

“Dia mencoba untuk melompat dari balkon ini” jarinya menunjuk balkon dimana Na Ri tergantung tadi.

“APA!?”

TBC…

Huwaa.. gimana? Gimana? *antusias* gak berasa kah?. Give me you comments, please….

Iklan

Ayo tinggalin jejak...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: