My another world, My writing world….

DEMENTIA (End)


Tittle      : Dementia

Author  :  Shin

Length : Twoshot (End)

Cast      : Lee Haerin (Oc)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Leeteuk (Support Cast)

Kim Heechul (cameo nama) *brasa drama -_-*

Genre  : Angst

Chapter ini sepertinya  lebih panjang, Happy Reading SCieFers….^^

Donghae POV.

Aku seorang workaholic, dan aku mengakuinya. Hidupku lebih banyak kuhabiskan di kantor, rapat, menemui client, ke luar kota untuk riset pengembangan perusahaan atau kunjungan sesama pengusaha yang membuatku sangat jarang melihat rumah. Teringat akan rumah membuatku sering merasa bersalah karena harus selalu meninggalkan seorang gadis kecil sendirian disana, gadis kecil yang akan selalu kuanggap kecil meskipun kini ia sudah beranjak remaja dengan seragam SMAnya.

Tapi, aku selalu memaksa hatiku untuk menepis rasa itu karena ini semua untuknya juga, untuk kami berdua. Appa kami meninggal setahun lalu mengalihkan sebuah tanggung jawab besar dipundakku, perusahaan yang telah berpuluh tahun ia bangun dengan peluhnya sendiri dan aku bertekad untuk terus mempertahankannya. Eomma kami menyusul appa setelah sakit yang cukup lama semenjak appa meninggal, aku tahu eomma adalah wanita yang kuat, tapi hatinya benar-benar serapuh daun kering jika tanpa appa. Mungkin ini yang dinamakan cinta sejati, bukan?.

Kami ditinggal berdua, aku dan dongsaeng manisku, Lee Haerin. Dia gadis yang manis dan sepertinya menuruni gen kuat dari eomma. Dia tidak akan meminta pertolongan dari orang lain selama ia masih merasa mampu untuk melakukannya sendiri. Dan satu lagi hal tentangnya yang membuatku malu sendiri, dia gadis yang kuat menangis, berbeda sekali denganku yang sangat mudah menangis. Saat pemakaman appa, aku menangis hebat sampai aku merasa stok air mataku habis dan wajahku mengeras karena kucuran air mataku yang lengket dan mongering. Sementara Haerin, matanya hanya memerah dan tangannya buru-buru mengusap setiap titik-titik air mata yang keluar, selanjutnya dia hanya terisak dalam diam.

Dan saat pemakaman eomma, tangisku semakin parah. Aku bahkan tidak sadar diri kalau aku sudah berumur, meluapkan kemarahanku karena satu-satunyanya orang yang tersisa untuk kami cintai telah pergi jauh sekali dan tak akan kembali.  Sementara adikku, Haerin, dengan memasang senyum sendunya, ia berujar dihadapan foto eomma,

“Eomma pasti senang karena akan bertemu appa disana, benar kan? Kami akan ikut bahagia jika eomma bahagia, jangan lupa sampaikan salam cinta kami pada appa.”

Hanya itu. Dan dia mengecup bingkai kaca itu tanpa tangis. Aku malu mengakui bahwa aku adalah oppanya. Karena sepertinya aku lebih pantas kembali menjadi seorang balita cengeng dan dia adalah wanita dewasa yang bijaksana.

Hari ini aku pulang, kembali ke Seoul setelah dua minggu berada di Mokpo dan tentu saja berhubungan dengan pekerjaan. Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, kebetulan hari ini adalah akhir minggu jadi aku akan melepas sejenak pikiran tentang kantor dan menghabiskan waktu dengan dongsaeng manisku. Ah, mengingat wajahnya saja membuatku ingin cepat-cepat bertemu dengannya dan memeluknya. Aku rindu padanya.

Rumah kosong, saat kulirik jam ternyata masih jam 1 siang, Haerin tentu masih disekolahnya sekarang. Kuputuskan untuk membereskan rumah dan beristirahat sebentar. Sore nanti aku akan memasak makan malam untuk kami berdua.

Sup di panci yang sepertinya sudah masak kuangkat dari kompor dan membawanya ke ruang makan saat kudengar suara tapak kaki yang mendekat, pasti itu Haerin.

“Kau sudah pulang?” sambutku dengan wajah penuh senyum. Astaga, aku benar-benar sangat merindukan dongsaengku ini.

Ne” jawabnya pendek membalas senyumku kemudian meneruskan langkah yang beberapa detik lalu sempat terhenti karena pertanyaanku.

Mataku membulat, mulutku melongo tak percaya. Jawabannya hanya sependek itu. Bahkan dia tidak terlihat terkejut melihatku pulang. Tanganku melesat meletakkan panci berisi sup dimeja dan kembali menahan langkahnya. Aku membalik tubuhnya sehingga menghadapku, wajahnya terlihat lesu. Apa dia benar-benar tidak senang melihatku pulang setelah dua minggu tidak bertemu? Dan dia tidak memelukku seperti biasanya. Aku menarik lengannya pelan hingga tubuhnya ikut tertarik kedepan, aku memeluknya erat sekali. Sepertinya dia marah padaku. Kuelus rambutnya dengan lembut,

“Ah, arasseo, arasseo,  kau pasti marah padaku karena terlalu lama meninggalkanmu. Mianhae, maafkan oppa, eo?”

Dan Haerin tidak menjawab apa-apa.

*****

Acara makan malam yang sepi. Haerin menyuap makanannya tanpa selera. Tangannya bergerak menyumpit-i makanan kemulut, sementara matanya terlihat kosong menatap satu titik didepannya.  Aku tidak sempat untuk mengajaknya berbicara karena ia langsung meninggalkan meja makan dan berjalan ke kamarnya. Dia benar-benar marah.

Aku mulai mengurangi jam kerjaku dikantor. Pulang lebih awal yang artinya tidak lagi pulang tengah malam untuk lembur. Aku ingin lebih memperhatikan Haerin, menjadi appa sekaligus  eomma yang melihat ia tumbuh dan bertransformasi menjadi gadis yang beranjak dewasa. Rumah selalu sepi setiap aku pulang dan saat kuperiksa ke kamar Haerin, ia sudah tidur bergelung dengan selimut. Aku masih tetap saja sulit bertemu dengannya meskipun waktuku dirumah lebih banyak. Dia lebih suka didalam kamar daripada duduk disampingku menonton tv diruang tengah, dia hanya akan menjawab dengan anggukan atau suara tenggorokannya saat aku bertanya apakah ia baik-baik saja.

Aku baru sadar kalau rambutnya telah dipotong hingga sebahu saat aku berkunjung ke kamarnya suatu malam. Kuhidupkan lampu kamarnya, sekedar ingin melihat-lihat. Dan aku kembali terkejut melihat kamarnya yang sangat berantakan, padahal aku tahu dia sangat tidak menyukai tempat semrawut. Bahkan ia tidur dengan baju seragam yang masih menempel ditubuhnya. Tas sekolahnya tergeletak dilantai, sementara sepatu sekolahnya yang kotor bertengger di meja belajar. Jadwal mata pelajaran yang tertempel ditembok terlihat ramai dengan goresan spidol berwarna-warni yang melingkari setiap nama mata pelajaran, dan sepertinya selalu ditambah setiap hari hingga tulisan-tulisannya tertutupi oleh lingkaran-lingkaran itu, dan semua itu terlihat aneh.

Suasana hatinya juga sering berubah, dia bahkan menjadi mudah menangis tanpa sebab, berbeda sekali dengan Haerin yang ku kenal.

“Haerin-ah, mau oppa antar ke sekolah?” tanyaku dengan kepala menyembul dibalik pintu kamarnya. Ia menoleh kearahku, keningnya berkerut.

Oppa, sekarang hari apa?” ia tidak menjawab pertanyaan dariku tapi malah bertanya hal lain.

“Hari rabu” ia mengangguk kemudian tangannya memilahmilah  buku-bukunya, melupakan ajakanku tadi.

“Haerin-ah, mau oppa antar ke sekolah?” tanyaku lagi. Ia menggebrak buku yang dipegangnya ke meja dan berdesis,

“Ish, bisakah oppa diam? Aku tidak bisa berkonsentrasi menemukan buku pelajaranku hari ini jika oppa berisik!”.

Mungkin ini hanya perasaanku, tapi aku merasa Haerin menjadi pelupa bahkan untuk hal-hal kecil. Aku pernah menegurnya mengapa tidak memakai kaus kaki saat akan berangkat sekolah, kemudian ia menepuk jidatnya dan berlari ke kamarnya.  Lalu beberapa saat kemudian ia berlari ke ruang tengah bertanya apakah aku melihat kaus kakinya.

Aku semakin khawatir dengan perilakunya yang semakin aneh setiap hari. Kuputuskan untuk menanyakan hal ini pada Leeteuk hyung, seorang dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit ternama di Seoul. Dia adalah dokter kenalan keluarga kami. Appa sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, umurnya pun hanya bertaut 3 tahun diatasku.

ponselku berdenting nyaring menandakan ada sebuah e-mail masuk. Nama Leeteuk hyung bergerak-gerak dilayar, segera kubuka isi e-mailnya.

Membaca e-mailmu tentang perilaku-perilaku Haerin yang kau anggap aneh karena tidak seperti biasanya, dugaan sementaraku adalah  ia mengalami Demensia.

Dahiku terlipat membaca kata terakhir yang tertera disana. Demensia? Aku tidak pernah mengetahui nama ini sebelumnya. Apakah ini buruk?

Demensia bukan sebuah penyakit, tapi sejenis kelainan yang menyebabkan penurunan fungsional pada otak yang mempengaruhi gangguan daya ingat jangka pendek. Kau juga bilang dia sering marah-marah dan menangis tanpa sebab. Menurut perkembangannya, semua yang kau ceritakan itu masih berada ditahap2 awal. Tapi, aku belum bisa memastikan apakah ini benar-benar seperti yang kuduga karena bisa saja ini hanya kebetulan. Haerin yang mudah pelupa bisa saja karena otaknya terus dipenuhi tugas-tugas sekolahnya sehingga ia melupakan hal-hal kecil. Dan tentang Haerin yang mudah marah dan tersinggung, bisa jadi ia sedang dalam masa dimana  terjadi ketidakstabilan kadar hormon sehingga emosinya labil dan terjadi perubahan mood, maksudku Haerin sedang dalam mensteuasi dan  ini akan kembali normal setelah masa PMSnya berakhir atau kira-kira  setelah 4-7 hari. Dua-duanya memiliki alasan yang kuat, apakah ini memang gejala demensia atau perilaku masa pubertas biasa.

Saranku, ajak Haerin untuk melakukan pemeriksaan CT-Scan untuk pendeteksian sedini mungkin.

Aku membaca ulang isi e-mail itu hingga aku menyimpulkan untuk mengikuti saran Leeteuk hyung, uji CT-scan untuk Haerin.

******

Oppa, kita mau kemana?” Haerin bertanya polos disampingku. Hari ini aku akan menemui Leeteuk hyung dirumah sakit untuk memeriksakannya.

“Kerumah sakit” jawabku sambil mengemudikan mobil.

“Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?”

Kuelus puncak kepalanya dengan tangan kiriku kemudian tersenyum.

“Untuk memeriksa apakah ditubuhmu ada spesies jahat yang mengganggu” jawabku lagi, dia mendesis dengan mulut mencibir.

“Cssh, memangnya tubuhku sarang spesies jahat? Oppa, kau berlebihan. Tapi baiklah akan kuturuti, aku takut nanti oppa menangis karena aku menolak”

Ctak!

Kujitak puncak kepalanya yang tadi kuelus lembut, dia meringis mengusap-usap puncak kepalanya. Aku tergelak ramai.

“Kalau kau dinyatakan bebas penyakit kan kau juga yang senang”

Ne, arasseo” jawabnya dengan nada dipaksakan. Aku senang sikapnya kembali seperti dulu, ceria dan suka mengolokku cengeng, -_-. Semoga pemeriksaan nanti memberikan hasil yang kuharapkan, Haerin tidak memiliki penyakit atau kelainan yang diduga leeteuk hyung.

Kami baru sampai dirumah sakit setelah hampir satu jam perjalanan, karena lebih dari 30 menit dihabiskan dijalan raya yang macet. Kulirik Haerin yang tertidur disampingku, sepertinya dia kelelahan menunggu saat macet tadi hingga membuatnya mengantuk.

“Haerin-ah, ireona. Kita sudah sampai” ucapku sambil menggoyang-goyangkan lengannya, namun ia belum membuka matanya. Kugoyangkan lengannya lebih keras hingga membuat kepalanya ikut bergerak, ia membuka matanya tiba-tiba dan tampak terkejut.

Oppa, dimana ini?” tanyanya dengan mata mengerjap.

“Didepan rumah sakit”

Ia menoleh ke arahku dengan wajah heran.

“Rumah sakit? Siapa yang sakit?”

Aku tersenyum, dia lupa kalau sudah menanyakan hal itu tadi.

“Untuk memeriksamu”

“Memeriksaku? Memangnya aku sakit apa? Aku sehat-sehat saja, oppa

“Benar. Tapi oppa khawatir ada penyakit yang bersarang ditubuhmu, jadi oppa ingin kau menjalani pemeriksaan untuk memastikan kau benar-benar sehat” Jawabku sabar. Ia kembali ke posisinya semula menghadap ke depan, kedua tangannya terlipat didepan dada.

Nan shireo! Aku tidak mau diperiksa karena aku merasa sehat!” serunya dengan wajah kesal. Oh, ayolah, jangan mulai lagi. Batinku.

“Ayolah, haerin-ah, ini tidak sakit, percaya pada oppa, eo?” bujukku.

Shireo! Shireo! Aku benci rumah sakit, oppa.” teriaknya Kini ia berteriak kemudian kudengar ia terisak sambil tertunduk.

Oh, jangan menangis Haerin-ah, kau tahu kan kalau oppa paling tidak tahan melihat orang menangis? Apalagi orangnya adalah kau.

Dan pada akhirnya pemeriksaan itu tidak jadi kami lakukan. Aku membelok mobilku kembali pulang kerumah demi melihat Haerin menghentikan tangisnya. Aku mengirimi leeteuk hyung sebuah e-mail mengatakan bahwa kami tidak jadi menemuinya di rumah sakit.

*****

Author Pov

Donghae tidak membahas tentang pemeriksaan CT-scan itu lagi mengingat reaksi haerin yang seperti itu. Ia hanya akan melihat perkembangan Haerin setiap hari dan mengkonsultasikannya dengan leeteuk tanpa sepengetahuannya.

Haerin menjalani aktivitasnya seperti biasa. Bersekolah, bertemu dengan kyuhyun dan mendengar ocehan tak diinginkan dari hoobae secerewet Eun Ji. Dia menjalaninya dengan perasaan normal meskipun perlahan kyuhyun juga mencium perubahan perilakunya.

“Kau lupa mengerjakan peer lagi, ‘kan?” bisik Kyuhyun saat Han seosengnim, guru fisika, baru beberapa detik lalu mengucapkan salam pembuka pelajaran. Haerin tak menoleh, hanya bola matanya yang bergerak ke samping.

“Tentu saja aku mengerjakannya, halaman 58 nomor 1 sampai 50 kan? Jangan mengejek kemampuan mengingatku, Cho Kyuhyun” cibirnya santai.

Mwo? Kkkkkk” Kyu terkikik geli sambil memegangi mulut dan perutnya, ia kemudian menuliskan sesuatu di kertas.

“Apa kubilang, saraf otakmu itu makin susah berfungsi. Lebih baik kau segera menyervisnya ditoko-toko elektronik terdekat atau kalau perlu di tempat servis PSP milik Heechul hyung langgananku, haha. Pe-ernya itu di halaman 56 nomor 1 sampai 10, dasar pikun!”

Haerin meremas kertas itu hingga tenggelam di genggamannya. Dalam sekali hentakan sepatunya menginjak sepatu kyuhyun dengan buas, matanya berkilat seolah berteriak ‘jangan samakan otakku dengan PSP hinamu itu, bodoh!’.

Keadaan Haerin semakin memburuk. Kemampuan fungsi kognitifnya perlahan melemah.

“Hosh..hosh… Apa.. Ada… Yang bernama Eun Ji.. Hosh.. Disini?” suara Kyu terputus-putus sambil menekan-nekan dadanya yang menderu, saat ini ia berdiri didepan kelas 2-4. Dua orang siswi yang berdiri didepannya saling berpandangan sejenak kemudian mengangguk kompak.

“Tolong..panggilkan dia..”.

“Eunji-ya,..” seru Kyuhyun setelah melihat dua siswi tadi membawa seorang siswi lagi dari dalam kelas. Eunji mengerjap tak percaya melihat orang yang berdiri didepannya, wajahnya berpeluh.

“Eh, Kyu sunbae tau namaku?” tanyanya takjub dengan telunjuk mengarah ke wajahnya.

“Ikut aku” seru Kyuhyun kemudian mencekal pergelangan tangan Eun ji, menariknya untuk berlari.

“Pinjamkan aku rokmu” ucap Kyuhyun sesaat setelah ia menghentikan larinya didepan loker siswa.

NE?  Mak…sud sunbae?!” pekik Eunji dengan kedua tangan menyilang didepan dadanya, menunjukkan wajah ngeri.

Ctak!

Kyuhyun menjitak kening Eun ji sambil mendengus, gadis didepannya ini pasti berpikiran yang tidak-tidak.

Ya! Bukan itu maksudku. Apa kau memiliki rok lagi dilokermu? Aku, ah bukan, Haerin membutuhkannya sekarang”

Ne? Ada apa dengan Haerin sunbae?” tanya Eun ji balik.

“Jangan tanya sekarang, cepat berikan rokmu”

Mian sunbae, aku hanya punya satu rok yang kupakai ini. Tapi aku membawa celana olahragaku”

“Celana? Oh, terserahlah, dimana ia sekarang?”

“Dilokerku”

Sepanjang koridor dipenuhi oleh siswa yang berjejer menempel pada tembok, tersenyum-senyum sambil saling berbisik. Mata mereka sama-sama tertuju pada seorang siswi yang berjalan sambil menunduk, penampilannya aneh atau lebih pas disebut memalukan karena ia hanya memakai seragam bagian atasnya sementara tidak ada rok sekolah yang menggantung dibawahnya, ia hanya memakai celana pendek dengan motif animasi ikan-ikan berwarna oranye. Gadis itu terisak dalam menyadari kebodohannya melupakan rok sekolahnya, kepalanya terasa berat.

“APA YANG KALIAN LIHAT, HAH?” teriak seseorang dari ujung koridor, ia melangkah tergesa menyusul siswi itu dan menariknya segera dari tempat itu. Matanya menatap ganas orang-orang disana, mereka membalas dengan hujan cibiran.

“Astaga, Haerin sunbae, apa yang terjadi dengannya?” sekali lagi Eun ji dibuat terpekik tak percaya melihat gadis yang kini dipapah oleh Kyuhyun menuju ruang olahraga. Tubuhnya lemas, rambutnya acak-acakan dan wajahnya basah oleh air mata. Keadaannya semakin menyedihkan karena ia hanya memakai celana pendek tanpa dilapisi rok sekolah di atasnya.

“Sepertinya ada masalah dengan kemampuan otaknya dalam mengingat, dan ini yang paling parah” Jelas Kyuhyun sambil menyibak rambut haerin yang berkumpul diwajahnya.

“Kemampuan mengingat? Maksud sunbae?” tanya Eunji ikut membuka sepatu haerin.

“Eunji-ya, tolong pakaikan celanamu pada Haerin. Aku akan menelpon keluarganya”. Eunji mengangguk patuh, melupakan pertanyaannya tadi. Sementara kyuhyun merogoh tas Haerin, mengambil ponselnya kemudian berjalan menjauh dari mereka berdua. Bukankah Haerin akan dipakaikan celana?.

Sekarang Kyuhyun bingung siapa yang akan ia telpon, ia tak menemukan kontak dengan nama ‘appa‘ atau ‘umma‘, sementara ada lebih dari dua nama yang diikuti dengan kata ‘oppa‘ disana. Akhirnya ia menekan angka 1 cukup lama, berharap angka itu menunjuk ke salah satu nomor. Bingo! Sebuah nomor dengan kontak nama yang cukup aneh ‘ikan cengeng’ terlihat dilayar ponsel dan tersambung.

Yeoboseyo, Haerin sayang” jawab seseorang dari seberang, suaranya terdengar berat. Kyuhyun tercekat mendengar ia memanggil Haerin dengan sayang.

Yeob..yeoboseyo, ini..siapa?” tanya Kyuhyun putus-putus.

Mwo? Ini yang siapa? Kau apakan ponsel adikku, heh?” suara diseberang meninggi.

Adik? Dia oppanya Haerin?

“Oh, hyung. Aku teman Haerin, ia pingsan di sekolah dan aku tidak tahu kemana harus mengantarnya pulang” ucap Kyuhyun dengan suara lancar.

Mwo? Pingsan? Astaga, Haerin. Cepat antarkan, ah tidak, kau tunggui dia. Aku akan menjemputnya disana. Dengar. Temani dia. Arasseo?” suara diseberang itu terdengar bingung.

Ne, hyung

 

******

Haerin dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian ia tak memakai rok ke sekolah membuatnya pingsan karena shock dan tertekan, Ia di opname di rumah sakit dan kini sudah melewati hari ke-enam Tapi ia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman.

Donghae terlihat frustasi. Ia menemani Haerin setiap saat hingga lupa bahwa ia juga punya tubuh sendiri yang harus di urus. Beruntung ada Kyuhyun yang selama 4 hari terakhir ini mengunjunginya tanpa absen, dan berhasil memaksa Donghae untuk pulang dan beristirahat dirumah. Kyuhyun tidak tega melihat penampakan wajah donghae yang mengerikan dengan lingkar mata menghitam dan rambutnya yang acak-acakan. Dia benar-benar butuh tidur dan mandi.

******

Donghae POV.

Aku baru saja keluar dari kamar mandi, rasanya kepala dan badanku benar-benar ringan setelah air dingin menyentuh pori-pori kulitku. Mataku juga sudah lebih nyaman untuk mengerjap setelah kubiarkan ia beristirahat semalam, tak seperti beberapa hari kemarin yang terus terjaga untuk menemani Haerin. Aku bersikeras untuk membuatnya terus terbuka tapi seorang anak SMA yang mengaku teman Haerin bernama Kyuhyun akhirnya membuat keteguhan hatiku runtuh. Ia memaksaku habis-habisan untuk pulang dan beristirahat kemudian menawarkan dirinya untuk menjaga haerin semalaman, awalnya aku meragukannya tapi kemudian ia mengeluarkan sebuah benda yang baru ku sadari adalah sebuah psp.

“Tenang saja, hyung. selama ada benda ini bias ku pastikan aku akan terjaga semalaman. aku akan segera menghubungimu jika Haerin sudah sadar” ujarnya meyakinkan.

Setelah ini aku akan kembali ke rumah sakit, Haerin tidak ada yang menemani disana karena kyuhyun pasti sudah pulang untuk bersiap kesekolah. Kuraih ponsel ditempat tidur dan cukup terkejut karena ada 13 panggilan tidak terjawab dari Kyu (kami sudah bertukar nomer telepon sebelumnya) dan 5 pesan darinya yang isinya sama,

Hyung, Haerin sudah sadar“.

Kurasakan kakiku terasa sangat ringan untuk berlari kerumah sakit sekarang juga. Haerin-ku sudah sadar setelah hampir seminggu hari tidak membuka mata, dongsaengku yang manis dan tukang mencibir itu sudah kembali hidup. Aku ingin memeluk badan mungilnya dan berteriak berterimakasih pada Tuhan.

“Dia koma, Donghae-ya”

“Dugaanku benar, ia mengalami kelainan demensia”

“Meskipun tanpa uji CT-Scan, gejala yang akhir-akhir ini kau ceritakan padaku semakin memperkuat dugaanku..”

“Ia koma, dan ini adalah gejala akhir dari demensia”

Kalimat-kalimat menyakitkan yang dua hari lalu kudengar dari mulut leeteuk hyung sendiri itu kini kembali menari-nari di kepalaku. Entah berapa kecepatan mobilku saat ini, yang ku tahu adalah jarum di spidometer terus merangkak naik. Mataku sudah menggenang sekarang dan mungkin jika kuhentakkan sekali saja, air mataku pasti akan sukses tumpah. Tapi kupaksa hatiku untuk menahannya untuk tumpah.

Leeteuk hyung bilang ia koma, dan sekarang kudengar ia sudah sadar. Bukan, ia bukan koma, tapi hanya tertidur sejenak. Bukankah koma itu berarti mati sebagian dan berjalan sangat lama? Haerin hanya tertidur selama seminggu dan setelah ini ia akan kembali sehat. Aku benar ‘kan?

“Haerin-ah” seruku saat membuka sebuah kamar rumah sakit. Aku ingin segera melihat wajah adikku.

Kulihat ada satu, dua, tiga, ah, kenapa ada banyak orang disini? Apa aku salah kamar?

“Donghae-ya” kudengar seseorang memanggil namaku. Kubuka mataku lebih lebar. Leeteuk hyung ada disana, diantara orang-orang itu. Ternyata dia yang memanggilku tadi.

Hyung..” lirihku meminta penjelasan tentang kamar Haerin yang ramai ini. Tanpa sengaja mataku menangkap sesosok namja yang duduk dikursi dekat bangsal. Ia menoleh ke arahku, matanya memerah dan berair.

Kyuhyun, anak itu menangis. Kulihat seorang gadis yang  berdiri disampingnya. Beberapa hari lalu ia juga berkunjung ke sini, kalau tidak salah ia mengenalkan dirinya dengan nama Eun Ji.  Gadis itu sesenggukan nyaring sambil terus-menerus mengusap pipinya yang basah.

Kurasakan ulu hatiku tiba-tiba nyilu dan dadaku sesak. Kuseret kaki ku mendekat ke bangsal, mata Haerin masih tertutup. Dia sudah sadar kan? Mengapa matanya belum terbuka? Dan sebuah suara memekik panjang dari benda berbentuk kotak dimeja mengusik daun telingaku dan memaksa kepalaku untuk menoleh. Layar itu, ada sebuah garis lurus berwarna hijau berjalan ditengahnya. Garis yang ternyata adalah sumber bunyi pekikan tadi. Garis… lurus…yang bergerak?

ANDWE! ANDWE! HAERIN-AH ANDWE!

******

She has gone..

“Ia koma, Donghae-ya, tapi hanya sebentar. Demensia-nya mencapai titik akhir, relakan kepergiannya”

“Mianhae, hyung. Saat aku melihat kelopak matanya bergerak dan membuka, aku langsung meng-sms-mu sampai tak sadar telah menekan tombol kirim berkali-kali karena terlalu senang. Kulihat mulutnya bergerak-gerak seperti mengatakan sesuatu. Aku hanya bisa menangkap kata yang ia ucapkan berulang-ulang-Donghae-oppa-, tapi tiba-tiba alat pendeteksi jantung itu berbunyi aneh, garis dilayar bergerak tak beraturan dan mata Haerin tertutup lagi”

Aku menggigit bibir bawahku dengan keras menahan batu besar didadaku yang siap jebol melebur menjadi banjir air mata, tanganku mendekap erat pigura dengan sebuah wajah tersenyum menempel disana.

“Haerin-ah, bolehkan Oppa menangis sekarang?”

Oppa malu padamu jika harus kembali menangis histeris seperti saat pemakaman appa dan umma dulu….”

“Tapi, ganjalan ini benar-benar membuat dada oppa sesak dan sulit bernafas….”

“Haerin-ah, Oppa mencintaimu, sangat menyayangimu. Kau percaya itu ‘kan?”

Dan aku pun ambruk dengan lutut menahan tubuhku. Aku tertunduk dan menangis diam.

“Haerin-ah, mianhae karena oppa menangis. Jangan mengejekku lagi kali ini”

_ _ _ _ _ _ _ _  _

Malam pertama tanpa Appa.

Saat pemakaman tadi ingin sekali aku menangis keras-keras, kenapa Appa meninggalkan kami begitu saja? Aku lihat eomma bahkan tak menangis tapi bisa kurasakan dadanya kembang kempis menahan semuanya menggumpal ditenggorokannya. Aku tahu ia juga ingin menangis meraung-raung, tapi ia memilih untuk hanya diam karena tidak mau membuatku dan oppa semakin sedih. Jadi kuputuskan untuk tidak menangis juga. Dan aku menyesal karena baru menangis sekarang, benar-benar terasa lebih menyakitkan.

Malam pertama tanpa appa dan eomma

Aku tidak menangis, dan aku tidak lagi menyesal. Karena aku yakin eomma pasti sangat bahagia karena akan segera bertemu appa kan? Tapi, mataku sakit eomma, apa karena aku terlalu kuat menahannya agar tak mengeluarkan isi dibaliknya. Oh iya, apa eomma tadi lihat donghae oppa? Dia menangis hebat, berlebihan ‘kan eomma? Dia memang cengeng, tapi aku mengerti. Karena dia sangat mencintai eomma, dan eomma harus tahu kalau aku juga sangat sangat sangat sangat mencintaimu.

Malam keduapuluh tanpa appa dan eomma,

Eomma, aku memilih untuk menyesal lagi telah merelakanmu pergi karena sekarang aku kesepian tanpa eomma dan appa. Donghae oppa sibuk dengan urusan kantor dan sangat jarang di rumah.

Eomma, Appa, sekarang aku menangis keras-keras karena merindukan kalian dan kuharap oppa tidak tiba-tiba pulang dan mendengarku menangis. Karena pasti ia akan mengejekku dan tertawa bangga mengetahui ada manusia cengeng selain dirinya dirumah ini.

Entah malam yang keberapa tanpa appa dan eomma

Eomma, Appa, Aku takut lupa pada wajah kalian dan juga oppa.

(Haerin’s diary)

_End_

 

Gimana? Berasa sesuatu kah? Haha, I hope so. Jadi mari-mari tinggalkan kritik dan saran kalian karena saya sangat-sangat butuh suara dari kalian… *emangnya PEMILU, Shin? -_-*.

 

Iklan

Ayo tinggalin jejak...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: